Rabu, 31 Juli 2013

Agar Tetap Sehat, Tahan Godaan dari yang Manis-manis Saat Lebaran


Selain diwajibkan bagi umat Muslim, ibadah puasa Ramadan sebenarnya memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Antara lain untuk detoksifikasi, pembersihan dari dari berbagai jenis kotoran sisa metabolisme. Sayang sekali apabila manfaatnya luntur karena kalap makan saat Lebaran.


Umumnya makanan yang enak belum tentu sehat. Sebab di dalamnya terkandung kalori yang tinggi, jauh lebih tinggi dari yang dibutuhkan tubuh. Kelebihan kalori tersebut akan disimpan dalam bentuk lemak. Jika simpanannya berlebih, bukannya mendapat untung, tubuh malah berisiko mengalami diabetes, hipertensi, obesitas, penyakit jantung, dan stroke.
Oleh karena itu, asupan kalori perlu dikontrol untuk menjaga berat badan dan mencegah terjadinya penyakit. Cara yang paling mudah dan sederhana adalah dengan menjaga asupan makanan. Hindari makanan-makanan yang berkalori tinggi, terutama yang manis-manis, misalnya kue.

“Kue itu kalorinya tinggi. Misal satu kastengel saja bisa mengandung 50 kalori. Nastar, putri salju juga rata-rata 50 kalori. Kalau sekali makan katakan lah 10 kalori, maka sudah dapat 500 kalori. Dalam seminggu berat badan sudah naik setengah kg. Sebulan bisa naik 2 kg,” kata dr Titi Sekarindah, MS, SpGK kepada detikHealth seperti ditulis pada Rabu (31/7/2013).

Dr Titi yang merupakan pakar gizidari Rumah Sakit Pusat Pertamina ini menerangkan, jumlah kalori yang aman dikonsumsi 3 - 4 kali sehari idealnya adalah 200 kalori. Pendapat serupa dilontarkan oleh DR dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, spesialis lambung dan pencernaan dari Divisi Gastroenterologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM.

“Teh dalam kemasan botol saja kalorinya 425. Kalau kita minum 4 botol, sudah seperti makan pagi. Kue sebuahnya 60 atau 70 kalori. Kalau makan 10 buah, sama saja kita makan siang. Makanya harus diperhatikan energi atau kalorinya. Cukup dua atau tiga buah sebagai selingan saja,” terang dr Ari.

Apabila keinginan ngemil kue begitu sulit dibendung, mungkin karena begitu enaknya atau tidak enak dengan yang menyuguhkan, ada siasat yang bisa dilakukan untuk membatasi asupan kalori. Misalnya jika sudah banyak makan, dr Ari menyarankan untuk mengurangi porsi nasi yang dimakan.

“Jadi bisa dibilang sebagai substitusi (pengganti),” pungkasnya.

Sumber: www.detik.com
Artikel selanjutnya: Ibu dan Anak