Selasa, 30 Juli 2013

Pentingnya Akhlak Islami dan Akhlak Rosululloh SAW



1.     Pengertian Akhlak Islami
Akhlak islami dapat diartikan sebagai akhlak yang berdasarkan ajaran islam atau akhlak yang bersifat islami. Kata islam yang berada di belakang kata akhlak dalam hal menempati sebagai sifat.
Dengan demikian akhlak islami adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah, disengaja, mendarah daging, dan sebenarnya yang didasarkan pada islam. Dilihat dari segi sifatnya yang universal, maka akhlak islami juga bersifat universal. Namun dalam rangka menjabarkan akhak islami yang universal ini diperlukan bantuan pemikiran akal manusia dan kesempatan sosial yang terkandung dalam ajaran etika dan moral.


Dan sebaik-baik akhlak adalah akhlak RosulullohSAW. Di dalam jiwa Rosululloh SAW merangkum banyak akhlak mulia, seperti sifat malu, mulia, berani, menetapi janji, ringan tangan, cerdas, ramah, sabar, memuliakan anak yatim, berperangai baik, jujur, pandai menjaga diri, senang menyucikan diri, dan berjiwa bersih.
Ibnu Qayyim menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW memadukan takwa kepada Alloh dan sifat-sifat luhur. Takwa kepada AllohSWT dapat memperbaiki hubungan antara seorang hamba dan Tuhannya, sedangkan akhlak mulia dapat memperbaiki hubungannya dengan sesama makhluk Alloh SWT. Jadi, takwa kepada Alloh SWT akan melahirkan cinta seseorang kepada-Nya dan akhlak mulia dapat menarik cinta manusia kepadanya.
Akhlak dalam ajaran agama tidak dapat disamakan dengan etika atau moral, walau etika dan moral itu diperlukan dalam rangka menjabarkan akhlak yang berdasarkan agama (akhlak Islami). Hal ini disebabkan karena etika terbatas pada sopan santun antara sesama manusia saja, serta hanya berkaitan dengan tingkah laku lahiriah. Jadi ketika etika digunakan untuk menjabarkan akhlak Islami, itu tidak berarti akhlak Islami dapat dijabarkan sepenuhnya oleh etika dan moral.
Akhlak (Islami) menurut Quraish Shihab lebih luas maknanya daripada yang telah dikemukakan  terdahulu secara mencangkup pula beberapa hal yang tidak merupakan sikap lahiriah. Misalnya yang berkaitan dengan sikap batin maupun pikiran.
Akhlak Islami adalah akhlak yang menggunakan tolak ukur ketentuan Alloh. Quraish Shihab dalam hubungan ini mengatakan, bahwa tolak ukur kelakuan baik mestilah merujuk kepada ketentuan Alloh. Apa yang dinilai baik oleh Alloh pasti baik dalam esensinya. Demikian pula sebaliknya, tidak mungkin Dia menilai kebohongan sebagai kelakuan baik, karena kebohongan esensinya buruk.

2.     Sumber Akhlak Islam
Akhlak yang benar akan terbentuk bila sumbernya benar. Sumber akhlak bagi seorang muslim adalah Al-Quran dan As-Sunnah. Sehingga ukuran baik atau buruk, patut atau tidak secara utuh diukur dengan Al-Quran dan As-Sunnah. Sedangkan tradisi merupakan pelengkap selama hal itu tidak bertentangan dengan apa yang telah digariskan oleh Alloh dan Rasul-Nya. Menjadikan Al-Quran dan As-Sunnah sebagai sumber akhlak merupakan suatu kewajaran bahkan keharusan. Sebab keduanya berasal dari Alloh dan oleh-Nya manusia diciptakan. Pasti ada kesesuaian antara manusia sebagai makhluk dengan sistem norma yang datang dari AllohSWT.
3.     Faktor-faktor Pembentuk Akhlak
1.      Al-Wiratsiyyah (Genetik)
Misalnya, seseorang yang berasal dari daerah Sumatera Utara cenderung berbicara “keras”, tetapi hal ini bukan melegitimasi seorang muslim untuk berbicara keras atau kasar karena islam dapat memperhalus dan memperbaikinya.
2.      An-Nafsiyyah (Psikologis)
Faktor ini berasal dari nilai-nilai yang ditanamkan oleh keluarga (misalnya ibu dan ayah) tempat seseorang tumbuh dan berkembang sejak lahir. Semua anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, orang tuanya-lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi (Hadits). Seseorang yang lahir dalam keluarga yang orang tuanya bercerai akan berbeda dengan keluarga yang orang tuanya lengkap.
3.      Syari’ah Ijtima’iyyah (Sosial)
Faktor lingkungan tempat seseorang mengaktualisasikan nilai-nilai yang ada pada dirinya berpengaruh pula dalam pembentukan akhlak seseorang.
4.      Al-Qiyam (Nilai Islami)
Nilai Islami akan membentuk akhlak Islami. Akhlak Islami ialah seperangkat tindakan/gaya hidup yang terpuji yang merupakan refleksi nilai-nilai Islam yang diyakini dengan motivasi semata-mata mencari keridhoan Alloh.

4.     Ruang Lingkup Akhlak Islami
Ruang lingkup akhlak islami adalah sama dengan ruang lingkup ajaran islam itu sendiri, khususnya yang berkaitan dengan pola hubungan. Akhlak diniah (agama/islami) mencakup berbagai aspek, dimulai dari akhlak terhadap Alloh, hingga kepada sesama makhluk (manusia, binatang, tumbuhan, dan benda-benda yang tak bernyawa).
1.      Akhlak Terhadap Alloh
Akhlak kepada Alloh dapat diartikan sebagai sikap atau perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai makhluk, kepada Tuhan sebagai Khalik.
Ada beberapa  alasan mengapa manusia perlu berakhlak kepada Alloh.
1)     Karena Alloh-lah yang telah menciptakan manusia. Dia menciptakan manusia dari tanah yang diproses menjadi benih. Dengan demikian sebagai yang diciptakan sudah sepantasnya berterima kasih kepada yang menciptakannya. Sebagaimana firman Alloh SWT:
Artinya: “Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan.” (Q.S. At-Thoriq [86]:5-7)
2)     Karena Alloh-lah yang telah memberikan perlengkapan pancaindera, berupa pendengaran, penglihatan, akal pikiran, dan hati sanubari di samping anggota tubuh yang kokoh dan sempurna kepada manusia.
3)     Karena Alloh-lah yang telah menyediakan berbagai bahan dan sarana yang dibutuhkan bagi kelangsungan hidup manusia, seperti bahan makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, air, udara, binatang ternak, dan sebagainya.
4)   Alloh-lah yang telah memuliakan manusia dengan diberikannya kemampuan menguasai daratan dan lautan.
Banyak cara yang dapat dilakukan dalam berakhlak kepada Alloh. Di antaranya dengan cara tidak menyekutukan-Nya, takwa kepada-Nya, mencintai-Nya, ridho dan ikhlas terhadap segala ketentuan-Nya dan bertobat, mensyukuri nikmat-Nya, selalu bedoa kepada-Nya, beribadah, dan selalu mencari keridhoan-Nya.
2.      Akhlak Terhadap Sesama Manusia
Banyak sekali rincian yang dikemukakan Al-Quran berkaitan dengan perilaku terhadap sesama manusia. Petunjuk mengenai hal ini bukan hanya dalam bentuk larangan melakukan hal-hal negatif seperti membunuh, menyakiti badan, atau mengambil harta tanpa alasan yang benar, melainkan juga sampai kepada menyakiti hati dengan jalan menceritakan aib seseorang di belakangnya, tidak peduli aib itu benar atau salah, walaupun sambil memberikan materi kepada yang disakiti hatinya itu. Firman Alloh SWT:
Artinya: “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Alloh Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (Q.S. Al-Baqarah [2]:263)
3.      Akhlak Terhadap Lingkungan
Yang dimaksud dengan lingkungan di sini ialah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia, baik binatang, tumbuh-tumbuhan, maupun benda-benda tak bernyawa.
Pada dasarnya akhlak yang diajarkan Al-Quran terhadap lingkungan bersumber dari fungsi manusia sebagai khalifah. Kekhalifahan menurut adanya interaksi antara manusia dengan sesamanya dan manusia terhadap alam. Kekhalifahan mengandung arti pengayoman, pemeliharaan, serta bimbingan, agar setiap makhluk mencapai tujuan penciptaannya.
Binatang, tumbuh-tumbuhan, dan benda-benda tak bernyawa semuanya diciptakan oleh Alloh SWT, dan menjadi milik-Nya, serta semuanya memiliki ketergantungan kepada-Nya. Keyakinan ini mengantarkan seorang muslim untuk menyadari bahwa semuanya adalah “umat” Tuhan yang harus diperlakukan secara wajar dan baik.
Selain itu akhlak Islami juga memperhatikan kelestarian dan keselamatan binatang. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Bertakwalah kepada Alloh dalam perlakuanmu terhadap binatang, kendarailah, dan beri makanlah dengan baik “.
Uraian di atas memperlihatkan bahwa akhlak Islami sangat komprehensif, menyeluruh, dan mencakup berbagai makhluk yang diciptakan Tuhan. Hal yang demikan dilakukan karena secara fungsional seluruh makhluk tersebut satu sama lain saling membutuhkan. Punah dan rusaknya salah satu bagian dari makhluk Tuhan itu akan berdampak negatif bagi makhluk lainnya.
5.     Pentingnya Akhlak Islami
Akhlak ialah salah satu faktor yang menentukan derajat keislaman dan keimanan seseorang. Akhlak yang baik adalah cerminan baiknya akidah dan syariah yang diyakini seseorang. Buruknya akhlak merupakan indikasi buruknya pemahaman seseorang terhadap akidah dan syariah. Akhlak adalah buah dari ibadah. “Paling sempurna orang mukmin imannya adalah yang paling luhur akidahnya.” (H.R.Tirmidi).
Alloh SWT berfirman:
Artinya: “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, Yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar dan sesungguhnya mengingat Alloh (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Alloh mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S. [29]:45)
Akhlak merupakan lambang kualitas seorang manusia, masyarakat, umat karena itulah akhlak pulalah yang menentukan eksistensi seorang muslim sebagai makhluk Alloh SWT. Sabda Rosululloh SAW: “Sesungguhnya termasuk insan pilihan di antara kalian adalah yang terbaik akhlaknya.” (H.R. Muttafaq ‘alaih).
Berikut adalah beberapa contoh akhlak Rosululloh:
1.      Paling penyabar,
2.      Tidak sombong,
3.      Tawadu dan tenang,
4.      Tidak terganggu dengan urusan dunia,
5.      Paling berani, paling adil, dan paling menjaga diri,
6.      Sangat pemalu–tidak tetap pandangannya pada muka seseorang,
7. Mengasihi umat dan menyayangi ahli bait (keluarga) dan sahabatnya,
8.   Suka menunaikan pelawaan/undangan hamba sahaya dan orang merdeka,
9. Tangan Baginda tidak pernah menyentuh wanita yang bukan muhrimnya,
10.Baginda adalah manusia yang pemurah, suka bersedekah apa yang ada pada dirinya,
11.Makanannya hanyalah tamar dan syair, selebihnya adalah untuk jalan fisabilillah,
12.Menampal sandalnya, kainnya, dan mengurus kepentingan keluarganya,
13.Mengunjungi orang susah dan sakit,
14.Memuliakan orang-orang berakhlak,
15.Suka menasihati dan member tunjuk ajar.
Rosululloh SAW bersabda: “Aku mewasiatkan engkau supaya bertakwa kepada Alloh, bercakap benar, menepati janji, menunaikan amanah, meninggalkan perbuatan khianat, menjaga jiran tetangga, mengasihani anak yatim, lemah lembut perkataan, memberi salam, bagi amal perbuatan, pendek angan-angan, harus kuat keimanan, memahami Al-Quran, mencintai akhirat, merasa gusar mengenai hisab amalan, dan merendahkan diri. Dan aku melarang engkau memaki hakim atau mendustakan orang yang benar atau mentaati orang yang berdosa atau mendurhakai imam yang adil atau merusakkan muka bumi. Dan aku mewasiatkan engkau agar bertakwa kepada Alloh pada setiap batu, kayu, dan tanah. Dan engkau datangkan tobat bagi setiap dosa. Tobat rahasia dengan rahasia dan yang terang dengan terang.”
Baginda menyambut seseorang dengan sambutan yang baik yang tidak lepas dari senyuman di wajahnya, berkata dengan baik, membalas kejahatan dengan kebaikan, mengelakkan perkara-perkara yang tidak perlu.
Baginda mengajar umatnya bahwa sebaik-baik orang adalah mereka yang paling bagus akhlaknya, Baginda bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling baik di antara kamu  adalah yang paling baik akhlaknya.”
Bahkan Baginda mengajarkan pengikutnya bahwa yang paling dekat tempatnya dengan Baginda nanti pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya. Baginda bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling daku sukai di antara kamu dan yang paling dekat tempatnya dengan daku nanti di hari kiamat adalah yang paling bagus akhlaknya.”
Akhlak Rosululloh SAW  yang terpuji tidak hanya untuk para pengikutnya saja, bahkan Baginda juga melakukan hal yang sama terhadap musuh-musuhnya, ketika Baginda diminta untuk mendoakan orang-orang musyrik, Baginda bersabda: “Sesungguhnya aku tidak diutuskan sebagai pelaknat, tapi aku diutus sebagai pembawa rahmat (kasih sayang).”

6.     Cara Mencapai Akhlak Mulia
1.      Menjadikan iman sebagai pondasi
Iman artinya percaya yaitu percaya bahwa Alloh selalu melihat segala perbuatan manusia. Bila melakukan perbuatan baik, balasannya akan menyenangkan. Bila perbuatan jahat maka balasan pedih siap menanti. Hal ini akan melibatkan iman kepada Hari Akhir. Akhlak yang baik akan dibalas dengan syurga dan kenikmatannya.
2.      Pendekatan secara langsung (melaui Al-Quran)
Sebagai seorang muslim harus menerima Al-Quran secara mutlak dan menyeluruh. Jadi, apa pun yang tertera di dalamnya wajib diikuti. Misalnya, Al-Quran melarang untuk saling berburuk sangka. Firman Alloh SWT:

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.”(Q.S. [49]:12)

7.     Prinsip Dasar Akhlak dalam Islam                   
Islam adalah agama yang sangat mementingkan akhlak daripada masalah-masalah lain. karena misi Nabi Muhammad diutus untuk menyempurnakan akhlak. Hal itu dapat kita lihat pada zaman Jahiliyah kondisi akhlak yang sangat semrawut tidak karuan mereka melakukan hal-hal yang menyimpang seperti minum khomer dan berjudi. Hal-hal tersebut mereka lakukan dengan biasa bahkan menjadi adat yang diturunkan untuk generasi setelah mereka. Karena kebiasaan itu telah turun temurun maka pada awal pertama nabi mengalami kesulitan. Prinsip Akhlak dalam islam terletak pada Moral Force. Moral Force akhlak islam adalah terletak pada iman sebagai Internal Power yang dimiliki oleh setiap orang mukmin yang berfungsi sebagai motor penggerak dan motivasi terbentuknya kehendak untuk merefleksikan dalam tata rasa, tata karsa, dan tata karya yang konkret. Dalam hubungan ini Abu Huroiroh meriwayatkan hadist dari Rosululloh SAW: "Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang terbaik akhlaknya. Dan sebaik-baik di antara kamu ialah yang paling baik kepada istrinya.”
Al-Quran menggambarkan bahwa setiap orang yang beriman itu niscaya memiliki akhlak yang mulia yang diandaikan seperti pohon iman yang indah hal ini dapat dilihat pada surat Ibrahim ayat 24-27:

Artinya: "Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Alloh telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Alloh membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun. Alloh meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Alloh menyesatkan orang-orang yang lalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki."
Dari ayat di atas dapat kita ambil contoh bahwa ciri khas orang yang beriman adalah indah perangainya dan santun tutur katanya, tegar dan teguh pendirian (tidak terombang ambing), mengayomi atau melindungi sesama, mengerjakan buah amal yang dapat dinikmati oleh lingkungan.

8.     Faktor-faktor yang Memengaruhi Pembentukan Akhlak
Banyak sekali faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan akhlak antara lain adalah:
1.      Insting (Naluri)
Aneka corak refleksi sikap, tindakan, dan perbuatan manusia dimotivasi oleh kehendak yang dimotori oleh insting seseorang. Insting merupakan tabiat yang dibawa manusia sejak lahir. Para Psikolog menjelaskan bahwa insting berfungsi sebagai motivator penggerak yang mendorong lahirnya tingkah laku antara lain adalah:
1) Naluri makan, manusia lahir telah membawa suatu hasrat makan tanpa didorong oleh orang lain.
2)  Naluri berjodoh, dalam Al-Quran diterangkan: "Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak".
3)  Naluri keibuan, tabiat kecintaan orang tua kepada anaknya, dan sebaliknya kecintaan anak kepada orang tuanya.
4)  Naluri berjuang, tabiat manusia untuk mempertahankan diri dari gangguan dan tantangan.
5) Naluri bertuhan, tabiat manusia mencari dan merindukan penciptanya.
Naluri manusia itu merupakan paket yang secara fitrah sudah ada dan tanpa perlu dipelajari terlebih dahulu.
2.      Adat/Kebiasaan
Adat atau kebiasaan adalah setiap tindakan dan perbuatan seseorang yang dilakukan secara berulang-ulang dalam bentuk yang sama sehingga menjadi kebiasaan. Abu Bakar Zikir berpendapat bahwa perbuatan manusia apabila dikerjakan secara berulang-ulang sehingga mudah melakukannya, itu dinamakan adat kebiasaan.
3.      Wirotsah (keturunan)
Berpindahnya sifat-sifat tertentu dari pokok (orang tua) kepada cabang (anak keturunan). Sifat-sifat asasi anak merupakan pantulan sifat-sifat asasi orang tuanya. Kadang-kadang anak itu mewarisi sebagian besar dari salah satu sifat orang tuanya.
4.      Lingkungan pergaulan
Artinya suatu yang melingkupi tubuh yang hidup meliputi tanah dan udara sedangkan lingkungan manusia, ialah apa yang mengelilinginya, seperti negeri, lautan, udara, dan masyarakat. Lingkungan pergaulan ada dua macam:
1)     Lingkungan alam
Alam yang melingkupi manusia merupakan faktor yang mempengaruhi dan menentukan tingkah laku seseorang. Lingkungan alam mematahkan atau mematangkan pertumbuhan bakat yang dibawa oleh seseorang. Pada zaman Nabi Muhammad pernah terjadi seorang badui yang kencing di serambi masjid, seorang sahabat membentaknya tapi nabi melarangnya. Kejadian di atas dapat menjadi contoh bahwa badui yang menempati lingkungan yang jauh dari masyarakat luas tidak akan tahu norma-norma yang berlaku.
2)     Lingkungan pergaulan
Manusia hidup selalu berhubungan dengan manusia lainnya. Itulah sebabnya manusia harus bergaul. Oleh karena itu dalam pergaulan akan saling mempengaruhi dalam fikiran, sifat, dan tingkah laku. Contohnya akhlak orang tua di rumah dapat pula mempengaruhi akhlak anaknya, begitu juga akhlak anak sekolah dapat terbina dan terbentuk menurut pendidikan yang diberikan oleh guru-guru di sekolah.



Daftar Pustaka






Artikel selanjutnya: Agama Islam