Minggu, 04 Agustus 2013

Kekesalan Ibu


Di meja makan hanya ada tau, tempe, dan ikan asin. Kemudian ibu keluar dari pintu dapur sambil membawa semangkuk sayur. Tiba-tiba Tejo muncul mengejutkan. Ibu menjerit dan Tejo malah tertawa.




Ibu:    Anak nakal, sebentar lagi bapakmu pulang, sayurnya kamu tumpahkan. Bapakmu mau makan apa nanti?
Tejo:  Wee, yang menumpahkan kan ibu, kok saya yang disalahkan?
Ibu:    Kalau kamu tidak membuat ibu kaget, sayur ini tidak akan jatuh.
Tejo:  Salah siapa ibu kaget. Tejo kan cuma mau menunjukkan hasil karya Tejo ini. Bagus kan bu?
Ibu:    Anak nakal, membantah orang tua terus. Ini ijuk dari mana?

         Tejo melirik ke sebuah sudut, sapu telah berantakan tinggal gagangnya.

Ibu:    Ya ampun Tejo, sapu sampai rusak begitu.

Ibu makin marah dan memukul pantat Tejo.

Tejo:  Aduh, aduh, ibu jahat.
Ibu:    Biar, jahat. Kalau tidak dipukul begini kau tidak kapok. Anak kok bandelnya minta ampun. Hayo kapok tidak.

Tejo lalu berusaha meloloskan diri dari ibu, lalu lari ke luar rumahnya. Ibu mengerjar sampai pintu depan.

Ibu:    Mau ke mana heh?

Kemudian ayah tejo pulang dari kerja. Menemui ibu di ruang makan.

Ayah:  Tejo mana bu?
Ibu:    Tidak tahu. Tadi pergi tanpa pamit.
Ayah:  Lho, kenapa, kamu memarahinya lagi?
Ibu:    Dia sangat nakal, dia menumpahan semangkuk sayur.
Ayah:  Ibu, ibu, sabar sedikit kenapa. Tejo itu memang seperti anak lainya. Macam-macam saja. Tapi menurut ayah dia masih wajar.
Ibu:    Iya, tapi tadi Tjo meledek ibu.
Ayah:  Sudahlah, ayah lapar, ayo kita makan dulu. Habis makan tolong ibu cari Tejo nanti akan ayah nasihati dia.

Disadur dari: Bahasa Indonesia, Intensif.
 
Artikel selanjutnya: Bahasa Indonesia, Humor